IPS 9 Bab 2A

 IPS 9 Bab 2A

Mitigasi Bencana untuk Menunjang Sustainable Developments Goals (SDGs)

Upaya mitigasi bencana merupakan fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan. Bencana alam maupun sosial dapat menghancurkan infrastruktur, melumpuhkan roda ekonomi, dan menurunkan kualitas hidup masyarakat dalam seketika.

A. Konsep Dasar Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Jenis Mitigasi

Keterangan

Contoh Penerapan

Mitigasi Struktural

Upaya meminimalkan risiko bencana melalui pembangunan sarana-prasarana fisik dan teknologi.

Pembangunan tanggul laut penahan rob, konstruksi rumah tahan gempa, dan pembuatan kanal banjir.

Mitigasi Non-Struktural

Upaya meminimalkan risiko melalui penyusunan kebijakan, tata ruang, edukasi, dan regulasi.

Pemetaan wilayah rawan bencana, simulasi evakuasi mandiri, tata ruang berbasis risiko, dan edukasi kebencanaan.

B. Ragam Ancaman Bencana di Indonesia

Posisi geografis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik (Ring of Fire) serta wilayah tropis menjadikan Indonesia memiliki keberagaman potensi bencana.

Kategori Bencana

Penyebab

Contoh Bencana di Indonesia

Bencana Geologi

Disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik dan aktivitas internal bumi.

Gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, dan tanah longsor.

Bencana Hidrometeorologi

Disebabkan oleh perubahan dinamika cuaca, iklim, dan siklus air.

Banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung, dan abrasi pantai.

Bencana Antropogenik / Sosial

Pemicu utamanya adalah aktivitas manusia atau interaksi sosial antarwarga.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pencemaran limbah industri, dan konflik sosial.


C. Bentuk Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana, baik melalui pembangunan fisik (struktural) maupun peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat (non-struktural).

Bentuk Mitigasi Bencana yang Dapat Dilakukan

No.

Tahapan Bencana

Bentuk Mitigasi

Keterangan

Contoh Aksi Nyata

1.

Pra-Bencana

Struktural

Pembangunan fisik dan rekayasa teknis untuk menahan/mengurangi dampak ancaman.

Pembangunan gedung tahan gempa, tanggul laut penahan rob, dan dam penahan lahar.

2.

Pra-Bencana

Non-Struktural

Pembuatan aturan, perencanaan wilayah, dan peningkatan kesiapsiagaan warga.

Pemetaan peta rawan bencana, simulasi evakuasi mandiri, dan pemasangan sirene Early Warning System (EWS).

3.

Saat Bencana

Tanggap Darurat

Penyelamatan jiwa dan penanganan dampak langsung saat bencana terjadi.

Pelaksanaan evakuasi menuju titik kumpul (assembly point), pertolongan medis darurat, dan pendirian dapur umum.

4.

Pasca-Bencana

Rehabilitasi & Rekonstruksi

Pemulihan sarana, prasarana, serta kondisi psikososial masyarakat korban bencana.

Pendampingan trauma healing bagi anak-anak serta pembangunan kembali fasilitas umum berkonsep build back better.

D. Peran Para Pihak dalam Mitigasi Bencana (Pentahelix)

Mitigasi bencana merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kolaborasi terpadu melalui pendekatan Pentahelix serta keterlibatan aktif seluruh elemen pendidikan dan komunitas lokal.

Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Mitigasi Bencana

No.

Pihak yang Terlibat

Keterangan Peran

Contoh Aksi Nyata

1.

Pemerintah (BNPB/BPBD, BMKG, Pemda)

Pembuat kebijakan, penyusun tata ruang berbasis risiko, penyedia sistem peringatan dini, dan koordinator utama penanggulangan krisis.

Mengoperasikan sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS), menerbitkan regulasi tata ruang aman bencana, dan mengalokasikan dana darurat.

2.

Masyarakat

Pelaku utama kesiapsiagaan di tingkat tapak dan garda terdepan pelaksanaan evakuasi mandiri berbasis komunitas.

Membentuk Forum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana), membersihkan drainase lingkungan secara bergotong royong, dan merawat jalur evakuasi.

3.

Akademisi / Pakar

Melakukan penelitian ilmiah, pemetaan risiko bencana, pengembangan teknologi mitigasi, dan memberikan masukan berbasis data bagi pembuat kebijakan.

Memetakan zonasi rawan tanah longsor menggunakan Geographic Information System (GIS) dan merancang konstruksi bangunan tahan gempa yang efisien.

4.

Media Massa

Penyebar informasi kebencanaan yang cepat dan akurat, sarana edukasi publik, serta penyaring berita bohong (hoax) saat situasi darurat.

Mempublikasikan imbauan cuaca ekstrem dari BMKG secara cepat melalui siaran TV, radio, dan portal berita resmi agar warga tetap waspada.

5.

Sekolah (Pimpinan & Guru)

Mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum pembelajaran serta membangun lingkungan sekolah yang aman secara fisik dan sistemik.

Menerapkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), memasang denah evakuasi di setiap lantai gedung, dan menyusun SOP tanggap darurat sekolah.

6.

Tokoh Adat / Masyarakat

Memimpin dan menggerakkan warga melalui pendekatan kearifan lokal (local wisdom) serta norma sosio-kultural yang dihormati secara turun-temurun.

Mengajak warga menjaga keaslian "hutan tutupan" (hutan larangan) untuk mencegah longsor serta menerapkan tradisi lokal dalam mengamati tanda-tanda alam.

7.

Dunia Usaha / Swasta

Menyediakan dukungan logistik, pembiayaan program kesiapsiagaan melalui dana CSR, serta menerapkan standar keselamatan bencana pada fasilitas produksi.

Mengalokasikan dana CSR untuk pembangunan selter/tempat pengungsian sementara serta menyediakan kendaraan operasional bantuan saat bencana.

8.

Murid / Peserta Didik

Mempelajari prinsip kesiapsiagaan, berpartisipasi aktif dalam simulasi keselamatan, serta menjadi agen perubahan (peer educator) di lingkungan keluarga.

Mengikuti latihan/simulasi evakuasi gempa bumi secara berkala di sekolah dan membagikan tips kesiapsiagaan bencana kepada orang tua dan tetangga di rumah.

 

E. Sustainable Development Goals (SDGs)

Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan erat kaitannya dengan pengelolaan risiko bencana. Tanpa mitigasi yang terencana, potensi bencana alam maupun sosial dapat menghancurkan hasil-hasil pembangunan dalam waktu singkat.

1. Pengertian Sustainable Development Goals (SDGs)

Sustainable Development Goals (SDGs) adalah dokumen kesepakatan global yang memuat agenda pembangunan berkelanjutan guna mencapai kesejahteraan manusia secara adil dan melestarikan lingkungan.

Dimensi

Keterangan Pengertian

Definisi Konseptual

Kerangka kerja pembangunan global yang disepakati oleh negara-negara anggota PBB (termasuk Indonesia) untuk periode 2015–2030 guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan melindungi planet.

Prinsip Utama

Menjunjung tinggi prinsip "Leave No One Behind" (Tidak Ada Satu Pun yang Tertinggal), yang berarti pembangunan harus memberi manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

Pilar Pembangunan

Bertumpu pada 4 pilar utama: (1) Pilar Sosial, (2) Pilar Ekonomi, (3) Pilar Lingkungan, dan (4) Pilar Hukum & Tata Kelola.

Latar Belakang

Merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari agenda Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015.

 

2. Isi dari Sustainable Development Goals (SDGs)

SDGs terdiri dari 17 Tujuan dan 169 Target interaktif yang saling menopang satu sama lain.

No.

Poin Tujuan SDGs

Keterangan Fokus Pembangunan

1)

Tanpa Kemiskinan (No Poverty)

Mengentaskan segala bentuk kemiskinan di mana pun.

2)

Tanpa Kelaparan (Zero Hunger)

Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan meningkatkan gizi.

3)

Kehidupan Sehat & Sejahtera (Good Health)

Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kersejahteraan warga.

4)

Pendidikan Berkualitas (Quality Education)

Menjamin pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas bagi semua.

5)

Kesetaraan Gender (Gender Equality)

Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan.

6)

Air Bersih & Sanitasi Layak (Clean Water)

Menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi.

7)

Energi Bersih & Terjangkau (Affordable Energy)

Menjamin akses energi yang terjangkau, andal, dan berkelanjutan.

8)

Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi

Mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan pekerjaan yang layak.

9)

Industri, Inovasi, & Infrastruktur

Membangun infrastruktur yang tangguh dan memajukan inovasi.

10)

Berkurangnya Ketimpangan (Reduced Inequalities)

Mengurangi ketimpangan pendapatan dan akses di dalam/antarnegara.

11)

Kota & Permukiman Berkelanjutan

Menjadikan kota/permukiman inklusif, aman, selamat, dan tangguh.

12)

Konsumsi & Produksi Bertanggung Jawab

Menjamin pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

13)

Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action)

Mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya.

14)

Ekosistem Lautan (Life Below Water)

Melestarikan dan memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan.

15)

Ekosistem Daratan (Life on Land)

Melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan ekosistem darat.

16)

Perdamaian, Keadilan, & Kelembagaan Tangguh

Menguatkan masyarakat damai, adil, dan lembaga yang inklusif.

17)

Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global.

 

3. Hubungan Mitigasi Bencana dan Sustainable Development Goals (SDGs)

Mitigasi bencana berfungsi sebagai "benteng pelindung" agar capaian target SDGs tidak runtuh saat bencana terjadi.

Poin SDGs Terkait

Keterangan Hubungan Keterkaitannya

Contoh Penerapan / Aksi Nyata

SDG 1:

Tanpa Kemiskinan

Bencana dapat menghancurkan rumah, aset, dan sumber penghidupan, sehingga berisiko menciptakan kemiskinan baru.

Penerapan asuransi mikro atau bantuan logistik darurat untuk melindungi aset warga rentan pascabencana.

SDG 4:

Pendidikan Berkualitas

Bencana dapat melumpuhkan kegiatan belajar-mengajar jika sekolah rusak atau digunakan sebagai tempat pengungsian.

Penerapan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) serta penyiapan moda pembelajaran darurat/BSE.

SDG 11:

Kota & Permukiman Berkelanjutan

Permukiman yang tidak memperhitungkan peta rawan bencana akan mengalami kerusakan fatal ketika dihantam bencana.

Pemetaan tata ruang daerah aman bencana, pembuatan saluran drainase pembuang banjir, dan konstruksi rumah tahan gempa.

SDG 13:

Penanganan Perubahan Iklim

Perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, kekeringan, badai).

Pembuatan tanggul penahan abrasi pantai dan penerapan penanaman vegetasi mangrove (green belt) di pesisir.

SDG 15:

Ekosistem Daratan

Kerusakan hutan dan fungsi daerah aliran sungai (DAS) memperbesar risiko terjadinya tanah longsor dan banjir bandang.

Program reboisasi lahan kritis, teknik terasering di lereng gunung, dan penjelajahan hutan tutupan bersama warga.

 

F. Mewujudkan SDGs Melalui Masyarakat Tanggap Bencana

Integrasi kearifan lokal (local wisdom) dalam struktur dan tradisi masyarakat adat di Indonesia terbukti menjadi fondasi kuat dalam mitigasi bencana berbasis komunitas. Hal ini sejalan dengan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

1. Analisis Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana Kebudayaan

No.

Lokasi & Komunitas

Jenis Kearifan Lokal / Konstruksi

Fungsi Mitigasi & Aksinya

1)

Kampung Wana, Lampung

Rumah di Atas Umpak Batu

Rumah panggung tradisional diletakkan di atas batu umpak tanpa ditanam mati ke dalam tanah, sehingga bertindak sebagai sistem isolasi dasar (base isolation) saat terjadi guncangan gempa bumi.

2)

Suku Baduy, Banten

Larangan Mengubah Permukaan Tanah

Konstruksi bangunan mengikuti kontur asli tanah (menggunakan tiang penyangga dengan panjang bervariasi) tanpa meratakan atau menggali tanah secara masif.

3)

Kampung Ciptagelar, Jawa Barat

Konservasi Lahan & Leuit (Lumbung Padi)

Pembagian zonasi hutan (Hutan Leuweung Tutupan/Larangan) untuk menjaga ketersediaan air serta penyimpanan padi hasil panen di lumbung khusus (leuit).

4)

Desa Nuwewang, Maluku Barat Daya

Konstruksi Kayu/Bambu & Peringatan Dini Alam

Bangunan berbahan kayu dan bambu yang elastis menahan guncangan, dikombinasikan dengan pembacaan tanda alam (perilaku hewan/laut) sebagai peringatan dini gempa dan tsunami.

        2. Hubungan Kearifan Lokal Masyarakat dengan Poin SDGs

No.

Lokasi / Komunitas

Poin SDGs Terkait

Keterangan Integrasi

1)

Kampung Wana (Lampung)

SDG 11:

Kota & Permukiman Berkelanjutan

Mewujudkan arsitektur hunian yang memiliki ketahanan (resilience) tinggi terhadap bencana geologi tanpa merusak struktur tanah.

2)

Suku Baduy (Banten)

SDG 15:

Ekosistem Daratan SDG 13:

Aksi Iklim

Mencegah erosi, tanah longsor, dan kerusakkan struktur lapisan tanah melalui larangan adat meratakan kontur bumi.

3)

Kampung Ciptagelar (Jawa Barat)

SDG 2:

Tanpa Kelaparan

SDG 15:

Ekosistem Daratan

Menjamin ketahanan pangan berkelanjutan hingga bertahun-tahun sekaligus menjaga fungsi resapan air kawasan hutan.

4)

Desa Nuwewang (Maluku Barat Daya)

SDG 3: Kehidupan Sehat & Selamat

SDG 11: Permukiman Berkelanjutan

Mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa akibat reruntuhan bangunan berat melalui pemanfaatan material ramah lingkungan dan responsif gempa.

         3. Penerapan dan Contoh Aksi Nyata Tanggap Bencana

No.

Lokasi / Komunitas

Keterangan Mekanisme Kerja

Contoh Aksi Nyata Masyarakat

1)

Kampung Wana (Lampung)

Bangunan bergeser secara fleksibel di atas umpak batu tanpa mengalami patah pada struktur utama tiang kayu saat gempa.

Warga merawat fondasi batu umpak secara berkala dan mempertahankan pemakaian pasak kayu ketimbang paku besi.

2)

Suku Baduy (Banten)

Resapan air hujan tetap terjaga secara alami karena struktur tanah tidak mengalami pemadatan atau pengaspal buatan.

Mendirikan rumah panggung kayu beratap ijuk/rumbia mengikuti tinggi rendahnya lereng bukit tanpa pengerukan.

3)

Kampung Ciptagelar (Jawa Barat)

Sistem manajemen stok padi yang tahan disimpan bertahun-tahun di leuit tanpa bahan kimia perusak.

Menerapkan larangan menjual beras/padi hasil panen keluar desa guna mengamankan cadangan pangan saat krisis atau paceklik.

4)

Desa Nuwewang (Maluku Barat Daya)

Bobot bangunan yang ringan meminimalkan risiko cedera fatal jika struktur rumah roboh diterjang gempa kuat.

Memanfaatkan ikatan tali serat alam dan struktur kayu lokal serta membunyikan kentongan adat saat melihat tanda alam mencurigakan.

 -------  oOo  -------