IPS 8 Tema
3A
Upaya
Melakukan Mitigasi Bencana untuk Keberlanjutan
A. Pengertian Bencana
Bencana adalah peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan
masyarakat. Gangguan ini bisa disebabkan oleh faktor alam, faktor non-alam,
maupun faktor manusia, yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
B. Unsur-Unsur Pembentuk Bencana
Memahami unsur terjadinya bencana
sangat penting untuk memetakan tingkat risiko di suatu wilayah. Secara
akademis, bencana terjadi ketika ancaman bertemu dengan kondisi masyarakat yang
rentan.
|
Unsur |
Keterangan |
Contoh |
|
Ancaman
/ Bahaya (Hazard) |
Fenomena
alam, non-alam, atau sosial yang berpotensi merusak atau mengancam nyawa. |
Pergeseran
lempeng tektonik, cuaca ekstrem, atau keberadaan limbah beracun. |
|
Kerentanan
(Vulnerability) |
Kondisi
fisik, sosial, atau ekonomi yang membuat masyarakat sulit menghadapi ancaman. |
Bangunan
yang rapuh, tinggal di daerah lereng curam, atau minimnya akses informasi. |
|
Kapasitas
(Capacity) |
Kekuatan
atau sumber daya yang dimiliki untuk mencegah, mengurangi, atau pulih dari
dampak. |
Adanya
sistem peringatan dini (EWS), hutan mangrove, atau kesigapan relawan
bencana. |
|
Risiko
(Risk) |
Besarnya
kemungkinan kerugian yang timbul akibat pertemuan ancaman dan kerentanan. |
Estimasi
kerugian ekonomi atau proyeksi jumlah pengungsi jika terjadi banjir bandang. |
C. Jenis-Jenis Bencana
1. Bencana
Alam
Bencana
yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh
alam.
|
Aspek |
Penjelasan |
|
Pengertian |
Bencana
yang dipicu oleh tenaga dari dalam bumi (endogen), luar bumi (eksogen), atau
benda langit. |
|
Jenis
& Penjelasan |
Geologis: Akibat aktivitas lempeng/magma
(Gempa, Gunung Meletus).
|
|
Sebab
Terjadi |
Pergerakan
lempeng tektonik, aktivitas vulkanik, perubahan iklim, dan siklus hidrologi
ekstrem. |
|
Keuntungan |
Tanah
menjadi subur pasca letusan gunung api, munculnya sumber mineral baru, dan
pembaruan ekosistem. |
|
Kerugian |
Korban
jiwa, rusaknya infrastruktur, hilangnya tempat tinggal, dan trauma
psikologis. |
|
Upaya
Mengatasi |
Mitigasi
struktural (tanggul, bangunan tahan gempa) dan non-struktural (edukasi,
simulasi evakuasi, sistem peringatan dini). |
|
Contoh |
Tsunami
Aceh (2004), Letusan Merapi, Banjir Jakarta, Tanah Longsor di Banjarnegara. |
2. Bencana
Nonalam
Bencana
yang diakibatkan oleh fenomena nonalam atau kegagalan sistem buatan manusia.
|
Aspek |
Penjelasan |
|
Pengertian |
Bencana
yang bukan berasal dari alam, melainkan dari kegagalan teknologi,
modernisasi, atau wabah. |
|
Jenis
& Penjelasan |
Kegagalan
Teknologi:
Kesalahan teknis/manusia pada industri/nuklir.
|
|
Sebab
Terjadi |
Kelalaian
manusia (human error), kurangnya perawatan alat, mutasi virus/bakteri,
dan sanitasi buruk. |
|
Keuntungan |
Percepatan
riset medis, pembaruan standar keamanan industri, dan kesadaran pola hidup sehat. |
|
Kerugian |
Penurunan
produktivitas ekonomi, krisis kesehatan publik, dan pencemaran lingkungan
jangka panjang. |
|
Upaya
Mengatasi |
Audit
teknologi berkala, vaksinasi massal, penguatan sistem kesehatan, dan
penegakan hukum standar industri. |
|
Contoh |
Pandemi
COVID-19, Kebocoran Nuklir Chernobyl, Lumpur Lapindo (kegagalan
pengeboran). |
3. Bencana
Sosial
Bencana
yang terjadi dari peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh
manusia.
|
Aspek |
Penjelasan |
|
Pengertian |
Bencana
yang akar masalahnya berasal dari interaksi sosial, budaya, atau politik
antarmanusia. |
|
Jenis
& Penjelasan |
Konflik
Sosial:
Bentrokan antar kelompok.
Terorisme: Aksi kekerasan untuk menimbulkan
rasa takut luas. |
|
Sebab
Terjadi |
Kesenjangan
ekonomi, perbedaan ideologi yang tajam, perebutan sumber daya, dan isu SARA. |
|
Keuntungan |
Menguatnya
solidaritas internal kelompok tertentu dan evaluasi kebijakan sosial
pemerintah. |
|
Kerugian |
Disintegrasi
bangsa, pengungsian massal, kerusakan fasilitas publik, dan luka batin
antargenerasi. |
|
Upaya
Mengatasi |
Dialog
antarbudaya/agama, pemerataan ekonomi, penegakan hukum yang adil, dan
pendidikan karakter. |
|
Contoh |
Kerusuhan
Mei 1998, Konflik horizontal di Poso, Aksi Teror Bom Bali. |
D. Keberlanjutan Mitigasi Bencana
di Indonesia
1. Pengertian
Mitigasi Bencana
Mitigasi merupakan langkah awal
yang dilakukan untuk meminimalkan dampak buruk dari sebuah bencana sebelum
peristiwa tersebut terjadi.
|
Aspek |
Penjelasan |
Contoh |
|
Definisi |
Serangkaian
upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. |
Pembangunan
talud penahan tanah atau sosialisasi rutin mengenai simulasi evakuasi
mandiri. |
2. Langkah-Langkah
Mitigasi Bencana
Langkah mitigasi dibagi menjadi dua
pendekatan utama, yaitu secara fisik (struktural) dan melalui
kebijakan/edukasi (nonstruktural).
|
Pendekatan |
Langkah-Langkah |
Contoh
Penerapan |
|
Struktural |
Pembangunan
prasarana fisik dan penggunaan teknologi untuk mengurangi kerentanan. |
Pembuatan
rumah tahan gempa dan pemasangan sistem peringatan dini (Early Warning
System). |
|
Nonstruktural |
Pembuatan
kebijakan, peraturan, pemetaan, dan edukasi masyarakat. |
Penyusunan
Tata Ruang Wilayah yang aman dan pembuatan jalur evakuasi di sekolah-sekolah. |
3. Lima
Tujuan Mitigasi Bencana
Mitigasi dilakukan dengan tujuan
yang terukur untuk melindungi masyarakat dan aset negara.
|
No. |
Tujuan Mitigasi |
Penjelasan Singkat |
|
a. |
Mengurangi
Risiko |
Meminimalkan
dampak korban jiwa dan kerugian harta benda. |
|
b. |
Landasan
Perencanaan |
Menjadi
pedoman bagi pemerintah dalam merancang pembangunan wilayah. |
|
c. |
Meningkatkan
Kesadaran |
Memberikan
pemahaman kepada masyarakat tentang risiko di lingkungan mereka. |
|
d. |
Memberi
Rasa Aman |
Mengurangi
ketakutan masyarakat melalui persiapan yang matang. |
|
e. |
Menjamin
Keberlanjutan |
Memastikan
aktivitas ekonomi dan sosial tetap berjalan meskipun terjadi bencana. |
4. Manfaat
Mitigasi Bencana
Mitigasi yang berkelanjutan
memberikan keuntungan jangka panjang bagi stabilitas daerah.
|
Bidang |
Manfaat |
Contoh
Nyata / Riil |
|
Keamanan |
Menghindari
jatuhnya korban jiwa saat bencana melanda. |
Warga
segera mengevakuasi diri karena memahami sinyal sirine tsunami. |
|
Ekonomi |
Mencegah
kerusakan aset vital dan infrastruktur ekonomi. |
Pasar
atau area perdagangan tetap kokoh karena menggunakan struktur bangunan yang
standar. |
|
Lingkungan |
Menjaga
keseimbangan ekosistem agar tidak memperparah bencana. |
Penanaman
bakau (mangrove) yang bermanfaat mencegah abrasi sekaligus tsunami. |
|
Psikologis |
Mengurangi
trauma dan kepanikan massal. |
Masyarakat
tetap tenang karena sudah terlatih melakukan evakuasi rutin. |
E. Jenis-Jenis Mitigasi Bencana
1. Mitigasi
Bencana Gempa Bumi
a. Pengertian
Gempa Bumi
Gempa bumi merupakan fenomena alam
yang berkaitan erat dengan dinamika kerak bumi.
|
Aspek |
Penjelasan |
Contoh |
|
Definisi |
Getaran
atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari
dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. |
Guncangan
yang dirasakan penduduk saat terjadi patahan kerak bumi di darat maupun laut. |
b. Penyebab
Gempa Bumi
Penyebab gempa bumi sangat
bervariasi, mulai dari aktivitas lempeng hingga aktivitas manusia.
|
Faktor
Penyebab |
Penjelasan |
Contoh |
|
Tektonisme |
Pergeseran,
tumbukan, atau penunjaman lempeng tektonik. |
Tumbukan
Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia. |
|
Vulkanisme |
Aktivitas
magma yang akan keluar menuju permukaan gunung api. |
Gempa
tremor di sekitar Gunung Merapi sebelum erupsi. |
|
Terban
(Runtuhan) |
Runtuhnya
massa batuan atau lubang di bawah tanah. |
Runtuhnya
dinding gua kapur atau lubang pertambangan. |
|
Aktivitas
Manusia |
Pemicu
getaran akibat ledakan besar atau aktivitas industri. |
Uji
coba nuklir atau ledakan dinamit untuk pembukaan jalan di perbukitan. |
c. Jenis-Jenis
Gempa Bumi
Klasifikasi gempa membantu kita
memahami karakteristik guncangan yang terjadi.
|
Jenis
Gempa |
Kriteria
Penjelasan |
Contoh |
|
Gempa
Dalam |
Hiposentrum
berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi. |
Gempa
di Laut Jawa yang getarannya terasa luas namun tidak merusak. |
|
Gempa
Menengah |
Hiposentrum
berada antara 60 km - 300 km. |
Gempa
di wilayah pantai selatan Jawa. |
|
Gempa
Dangkal |
Hiposentrum
kurang dari 60 km. Jenis ini paling merusak. |
Gempa
Cianjur 2022 (dangkal dan merusak bangunan). |
d. Akibat
Gempa Bumi
Dampak gempa bumi mencakup
kerusakan fisik hingga perubahan struktur alam.
|
Bidang
Dampak |
Penjelasan |
Contoh |
|
Fisik/Infrastruktur |
Hancurnya
struktur bangunan yang tidak fleksibel. |
Runtuhnya
jembatan, rumah, dan jalan yang retak atau terbelah. |
|
Lingkungan |
Terjadinya
fenomena alam ikutan akibat guncangan. |
Tanah
longsor di lereng bukit dan likuefaksi (tanah mencair). |
|
Sosial
Ekonomi |
Kerugian
nyawa dan terhentinya aktivitas pasar/kantor. |
Pengungsian
massal dan hilangnya harta benda penduduk. |
e. Pengertian
Mitigasi Bencana Gempa Bumi
Mitigasi adalah kunci utama karena
waktu terjadinya gempa tidak dapat diprediksi secara akurat.
|
Istilah |
Penjelasan |
Contoh |
|
Mitigasi
Gempa |
Upaya
prabencana untuk meminimalkan dampak guncangan melalui kesiapan fisik dan
mental. |
Mengikuti
simulasi evakuasi mandiri secara rutin di sekolah atau kantor. |
f. Tujuh
Mitigasi Bencana Gempa Bumi
Langkah-langkah strategis untuk
menghadapi risiko gempa.
|
No. |
Langkah
Mitigasi |
Penjelasan
/ Contoh |
|
1) |
Struktur
Tahan Gempa |
Menggunakan
material bangunan yang ringan dan pondasi yang kokoh. |
|
2) |
Penataan
Interior |
Memaku
lemari ke dinding agar tidak roboh menimpa orang saat guncangan. |
|
3) |
Penyusunan
Jalur Evakuasi |
Menentukan
jalan keluar terpendek menuju titik kumpul yang aman. |
|
4) |
Penyediaan
Tas Siaga |
Tas
berisi air minum, makanan kering, senter, dan surat penting di dekat pintu. |
|
5) |
Simulasi
Berkala |
Latihan
rutin metode "Drop, Cover, Hold On" (Merunduk, Berlindung,
Bertahan). |
|
6) |
Zonasi
Pemukiman |
Melarang
pembangunan rumah tepat di atas jalur sesar aktif (patahan). |
|
7) |
Edukasi
P3K |
Pelatihan
bagi warga untuk memberikan pertolongan pertama pada korban luka. |
g. Perubahan
Mitigasi Bencana
Konsep mitigasi di Indonesia terus
berkembang seiring majunya ilmu pengetahuan.
|
Unsur
Perubahan |
Kondisi
Dulu |
Kondisi
Sekarang |
|
Teknologi |
Hanya
mengandalkan berita radio/TV konvensional. |
Penggunaan
aplikasi Info BMKG yang memberikan data detik itu juga. |
|
Standar
Bangunan |
Belum
ada aturan baku mengenai kekuatan bangunan. |
Adanya
aturan SNI Bangunan Tahan Gempa untuk gedung tinggi. |
|
Sistem
Informasi |
Informasi
bencana sering terlambat sampai ke pelosok. |
Pemasangan
alarm sirine dan penyebaran SMS darurat otomatis. |
h. Keberlanjutan
Mitigasi Bencana
Keberlanjutan memastikan bahwa
budaya siaga tidak berhenti pada satu generasi.
|
Aspek
Keberlanjutan |
Penjelasan |
Contoh
Penerapan |
|
Pendidikan |
Memasukkan
mitigasi ke dalam kurikulum sekolah. |
Materi
IPS Kelas 8 yang membahas kebencanaan secara mendalam. |
|
Kearifan
Lokal |
Menghidupkan
kembali cara tradisional yang terbukti aman. |
Menggunakan
arsitektur rumah kayu tradisional (seperti Joglo atau Rumah Panggung). |
|
Partisipasi
Komunitas |
Pembentukan
relawan bencana di tingkat desa/kelurahan. |
Adanya
Kelompok Masyarakat (Pokmas) Tangguh Bencana (Destana). |
2. Mitigasi
Bencana Gunung Meletus
a. Pengertian
Gunung Meletus
Gunung meletus merupakan salah satu
fenomena vulkanisme yang menjadi ciri khas wilayah Ring of Fire.
|
Aspek |
Penjelasan |
|
Definisi |
Peristiwa
keluarnya magma (batuan cair pijar) dari dalam bumi melalui kawah atau celah
pada kerak bumi ke permukaan bumi. |
|
Karakteristik |
Melibatkan
pelepasan energi besar berupa gas, abu vulkanik, lava, dan material padat
lainnya. |
b. Penyebab
Gunung Meletus
Terjadinya erupsi dipicu oleh
dinamika di bawah permukaan bumi yang menekan material keluar.
|
Faktor
Penyebab |
Penjelasan |
|
Peningkatan
Tekanan Magma |
Terjadi
akibat akumulasi gas di dalam dapur magma yang sudah jenuh. |
|
Pergerakan
Lempeng |
Gesekan
antar lempeng tektonik memicu panas yang mencairkan batuan menjadi magma
baru. |
|
Sistem
Hidrotermal |
Masuknya
air tanah ke dapur magma yang memicu ledakan uap air (erupsi freatik). |
c. Tanda-Tanda
Gunung Meletus
Alam memberikan sinyal sebelum
terjadinya erupsi besar yang dapat diamati oleh manusia.
|
Sinyal
Alam |
Contoh
Gejala |
|
Peningkatan
Suhu |
Mata
air di sekitar lereng mengering atau suhu airnya meningkat drastis. |
|
Aktivitas
Seismik |
Terjadinya
gempa-gempa lokal (tremor vulkanik) yang berulang secara intens. |
|
Perilaku
Hewan |
Hewan-hewan
liar turun dari puncak gunung karena merasa tidak nyaman dengan panas bumi. |
|
Deformasi |
Terjadi
penggembungan pada tubuh gunung akibat tekanan magma dari bawah. |
d. Akibat
Gunung Meletus
Letusan gunung api membawa dampak
yang luas, baik secara instan maupun jangka panjang.
|
Dampak |
Penjelasan
& Contoh |
|
Kerusakan
Langsung |
Hancurnya
pemukiman akibat awan panas (wedhus gembel) dan aliran lava. |
|
Dampak
Kesehatan |
Gangguan
pernapasan (ISPA) akibat paparan hujan abu vulkanik yang tajam. |
|
Dampak
Lingkungan |
Terjadinya
banjir lahar dingin di sepanjang aliran sungai saat musim hujan pasca-erupsi. |
|
Manfaat
Jangka Panjang |
Tanah
menjadi sangat subur dan munculnya sumber material bangunan (pasir/batu). |
e. Pengertian
Mitigasi Bencana Gunung Meletus
Upaya sistematis untuk mengurangi
risiko korban jiwa di wilayah rawan bencana vulkanik.
|
Istilah |
Penjelasan |
|
Mitigasi
Vulkanik |
Segala
tindakan prabencana, saat bencana, dan pascabencana yang bertujuan untuk
melindungi masyarakat dari bahaya erupsi gunung api. |
f. Tujuh
Kegiatan Mitigasi Bencana Gunung Meletus
Langkah-langkah praktis yang
dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.
|
No. |
Kegiatan Mitigasi |
Contoh Tindakan |
|
1) |
Pemantauan
Gunung Api |
Pengamatan
24 jam menggunakan seismograf dan sensor suhu oleh PVMBG. |
|
2) |
Pemetaan
Kawasan Rawan |
Pembuatan
peta KRB (Kawasan Rawan Bencana) I, II, dan III untuk membatasi pemukiman. |
|
3) |
Penentuan
Status Level |
Penetapan
status mulai dari Normal (I), Waspada (II), Siaga (III), hingga Awas (IV). |
|
4) |
Sistem
Peringatan Dini |
Pemasangan
sirine dan penyebaran informasi evakuasi melalui radio komunitas. |
|
5) |
Penyediaan
Jalur Evakuasi |
Pembangunan
jalan yang memadai dan pemasangan rambu menuju titik kumpul. |
|
6) |
Edukasi
Masker & Kacamata |
Menyiapkan
stok masker medis/kain untuk mencegah masuknya abu ke paru-paru. |
|
7) |
Sosialisasi
Berkala |
Melakukan
latihan simulasi pengungsian bersama warga di lereng gunung. |
3. Mitigasi
Bencana Tsunami
a. Pengertian
Tsunami
Tsunami berasal dari bahasa Jepang,
tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang), yang secara ilmiah
menggambarkan gelombang laut raksasa.
|
Aspek |
Penjelasan |
|
Definisi |
Gelombang
laut besar yang dipicu oleh pergeseran massa air laut dalam skala besar
secara mendadak. |
|
Karakteristik |
Memiliki
kecepatan tinggi di laut dalam, namun saat mendekati pantai, kecepatannya
menurun dan ketinggian gelombangnya meningkat tajam. |
b. Sebab
Terjadinya Tsunami
Tidak semua gangguan di laut
menyebabkan tsunami; diperlukan pemicu yang mengubah volume dasar laut secara
vertikal.
|
Faktor
Pemicu |
Mekanisme
Terjadinya |
|
Gempa
Tektonik |
Gempa
di dasar laut dengan magnitudo besar (>7,0 SR) dan memiliki pusat gempa
yang dangkal. |
|
Letusan
Gunung Api |
Erupsi
besar gunung api di tengah laut yang meruntuhkan tubuh gunung ke dalam air
(seperti Anak Krakatau). |
|
Longsor
Bawah Laut |
Runtuhnya
sedimen di lereng benua bawah laut yang mendorong massa air secara masif. |
|
Hantaman
Meteor |
Jatuhnya
benda angkasa ke samudra yang memicu gelombang kejut (jarang terjadi). |
c. Tanda-Tanda
Tsunami
Masyarakat di wilayah pesisir harus
memahami sinyal alam agar dapat melakukan evakuasi mandiri tepat waktu.
|
Gejala
Alam |
Penjelasan
/ Contoh |
|
Gempa
Bumi Kuat |
Adanya
guncangan gempa yang sangat kuat atau gempa lemah namun berdurasi lama (>1
menit). |
|
Surutnya
Air Laut |
Air
laut tiba-tiba surut hingga dasar laut/karang terlihat jelas karena terhisap
oleh pusat gempa. |
|
Suara
Gemuruh |
Terdengar
suara dentuman atau gemuruh seperti suara pesawat jet dari arah laut lepas. |
|
Perilaku
Burung |
Burung-burung
laut terbang menjauh dari pantai secara berkelompok menuju daratan tinggi. |
d. Akibat
Tsunami
Dampak yang ditimbulkan tsunami
sangat masif karena melibatkan energi air dan material yang terbawa.
|
Dampak |
Penjelasan
& Contoh |
|
Korban
Jiwa |
Korban
akibat terseret arus, benturan dengan material bangunan, atau tenggelam. |
|
Kerusakan
Fisik |
Hancurnya
rumah, fasilitas wisata, dermaga, dan infrastruktur listrik di pesisir. |
|
Kesehatan |
Pencemaran
air bersih karena masuknya air laut ke sumur warga dan potensi penyakit
kulit. |
|
Ekonomi |
Hilangnya
mata pencaharian nelayan karena rusaknya kapal dan alat tangkap. |
e. Pengertian
Mitigasi Bencana Tsunami
Mitigasi tsunami adalah kunci
keselamatan karena jeda waktu antara gempa dan datangnya gelombang seringkali
sangat singkat (15–30 menit).
|
Istilah |
Penjelasan |
|
Mitigasi
Tsunami |
Segala
upaya terencana untuk mengurangi kerentanan masyarakat pesisir terhadap
bahaya gelombang tsunami. |
f. Enam
Kegiatan Mitigasi Bencana Tsunami
Langkah-langkah yang dilakukan
untuk meminimalkan risiko di daerah rawan bencana.
|
No. |
Kegiatan Mitigasi |
Contoh Tindakan |
|
1) |
Sistem
Peringatan Dini |
Pemasangan
pelampung pendeteksi tsunami (Buoy) dan sirine peringatan dini di tepi
pantai. |
|
2) |
Hutan
Mangrove |
Penanaman
bakau di garis pantai sebagai pemecah gelombang alami (green belt). |
|
3) |
Peta
Evakuasi |
Pembuatan
jalur evakuasi dan rambu "Titik Kumpul" yang terletak di lahan yang
lebih tinggi. |
|
4) |
Bangunan
Vertikal |
Pembangunan
gedung tinggi khusus evakuasi (Tsunami Evacuation Building) di daerah
landai. |
|
5) |
Edukasi
"20-20-20" |
Sosialisasi:
Jika gempa terasa 20 detik, evakuasi dalam 20 menit, ke
ketinggian 20 meter. |
|
6) |
Tata
Ruang Pesisir |
Melarang
pembangunan pemukiman tepat di bibir pantai dan memindahkan pemukiman ke area
aman. |
4. Mitigasi
Bencana Tanah Longsor
a. Pengertian
Tanah Longsor
Tanah longsor merupakan fenomena
geologi yang sering terjadi di wilayah perbukitan atau pegunungan.
|
Aspek |
Penjelasan |
Contoh |
|
Definisi |
Peristiwa
perpindahan masa batuan atau tanah dengan arah miring atau vertikal dari
kedudukan aslinya karena pengaruh gravitasi. |
Tanah
di lereng bukit yang tiba-tiba merosot ke bawah setelah hujan lebat. |
b. Penyebab
Tanah Longsor
Longsor terjadi karena adanya
gangguan pada kestabilan lereng yang dipicu oleh faktor alam maupun manusia.
|
Faktor
Penyebab |
Penjelasan |
Contoh |
|
Curah
Hujan Tinggi |
Air
hujan menjenuhkan tanah, meningkatkan bobotnya, dan melemahkan daya ikat
antarbutir tanah. |
Longsor
yang terjadi setelah hujan terus-menerus selama lebih dari 24 jam. |
|
Kemiringan
Lereng |
Semakin
curam sebuah lereng, semakin besar gaya gravitasi yang menarik tanah ke
bawah. |
Lereng
perbukitan dengan kemiringan lebih dari 30 derajat. |
|
Penebangan
Hutan |
Hilangnya
akar pohon yang berfungsi sebagai pengikat tanah dan penyerap air. |
Pembukaan
lahan di daerah pegunungan untuk pertanian tanaman semusim. |
|
Aktivitas
Seismik |
Getaran
gempa yang mengguncang lereng dan merusak struktur kestabilan tanah. |
Longsor
yang terjadi bersamaan dengan guncangan gempa bumi. |
c. Akibat
Tanah Longsor
Dampak tanah longsor bersifat
destruktif karena dapat menimbun apa saja yang ada di bawahnya.
|
Bidang
Dampak |
Penjelasan |
Contoh |
|
Kerusakan
Fisik |
Tertimbunnya
pemukiman dan terputusnya akses transportasi. |
Jalan
raya yang tertutup material tanah sehingga mobilitas antarwilayah terputus. |
|
Korban
Jiwa |
Masyarakat
yang tertimbun karena longsor sering terjadi secara mendadak. |
Warga
yang tidak sempat menyelamatkan diri saat lereng di belakang rumah longsor. |
|
Ekonomi |
Hilangnya
lahan pertanian dan aset produktif masyarakat. |
Kebun
kopi atau cengkeh di lereng gunung yang hilang terseret massa tanah. |
d. Ciri-Ciri
Daerah Berpotensi Longsor
Mengenali ciri fisik wilayah sangat
penting sebagai bentuk kewaspadaan dini.
|
Karakteristik |
Kondisi
Visual |
Keterangan |
|
Retakan
Tanah |
Munculnya
retakan-retakan pada tanah di lereng atas secara memanjang. |
Sering
terjadi setelah musim kemarau panjang yang kemudian diguyur hujan. |
|
Posisi
Pepohonan |
Pohon
atau tiang listrik yang mulai miring searah dengan lereng. |
Menandakan
adanya pergerakan tanah di bawah permukaan secara perlahan. |
|
Rembesan
Air |
Munculnya
mata air baru secara tiba-tiba di bagian bawah lereng. |
Menunjukkan
kejenuhan air di dalam tanah yang sangat tinggi. |
|
Struktur
Batuan |
Batuan
yang melapuk atau memiliki lapisan kedap air di bawah tanah. |
Lapisan
kedap air bertindak sebagai bidang gelincir bagi tanah di atasnya. |
e. Pengertian
Mitigasi Bencana Tanah Longsor
Mitigasi tanah longsor difokuskan
pada pengelolaan lahan dan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan.
|
Istilah |
Penjelasan |
Contoh |
|
Mitigasi
Longsor |
Upaya
prabencana untuk mengurangi dampak gerakan tanah melalui perbaikan struktur
lereng dan pengaturan tata guna lahan. |
Larangan
membangun rumah di bawah lereng yang curam dan labil. |
f. Enam
Kegiatan Mitigasi Bencana Tanah Longsor
Langkah-langkah strategis untuk
mencegah dan menghadapi risiko longsor.
|
No. |
Kegiatan
Mitigasi |
Penjelasan
& Contoh |
|
1) |
Terasering |
Pembuatan
sengkedan pada lereng untuk mengurangi kecepatan aliran air dan memperkuat
kestabilan tanah. |
|
2) |
Penghijauan
(Reboisasi) |
Menanam
pohon berakar kuat (seperti jati atau beringin) di lereng untuk mengikat
struktur tanah. |
|
3) |
Pemasangan
Bronjong |
Susunan
batu yang dibungkus kawat pada kaki lereng untuk menahan beban tanah di
atasnya. |
|
4) |
Peta
Rawan Longsor |
Pembuatan
dokumen visual yang menunjukkan zona aman dan zona bahaya bagi masyarakat. |
|
5) |
Sistem
Drainase |
Membuat
saluran pembuangan air agar air hujan tidak meresap seluruhnya ke dalam tanah
lereng. |
|
6) |
Sistem
Peringatan Dini |
Pemasangan
alat extensometer yang mengeluarkan bunyi sirine jika terjadi
pergerakan tanah. |
g. Perubahan
Strategi Mitigasi
Perubahan pendekatan dalam
menangani risiko longsor di Indonesia.
|
Unsur
Perubahan |
Dulu |
Sekarang |
|
Metode
Penanganan |
Fokus
pada pembersihan material setelah longsor (responsif). |
Fokus
pada pencegahan dan penguatan lereng sebelum hujan (preventif). |
|
Keterlibatan
Warga |
Masyarakat
hanya menjadi objek bantuan. |
Masyarakat
dilatih mandiri memantau retakan tanah melalui relawan desa. |
h. Keberlanjutan
Mitigasi
Memastikan keamanan jangka panjang
bagi pemukiman di wilayah perbukitan.
|
Aspek
Keberlanjutan |
Penjelasan |
Contoh
Penerapan |
|
Konservasi
Lahan |
Menjaga
tutupan vegetasi hutan di bagian hulu tetap terjaga. |
Kebijakan
perlindungan hutan lindung di area resapan air perbukitan. |
|
Teknologi
Adaptif |
Penggunaan
sensor tanah digital yang terhubung ke smartphone warga. |
Aplikasi
deteksi dini yang mengirimkan notifikasi jika tanah bergerak. |
5. Mitigasi Bencana Banjir
a. Pengertian
Banjir
Banjir merupakan salah satu bencana
hidrometeorologi yang paling sering melanda wilayah Indonesia, terutama saat
musim penghujan.
|
Aspek |
Penjelasan |
Contoh |
|
Definisi |
Peristiwa
terbenamnya daratan oleh air yang berasal dari luapan sungai, danau, laut,
atau curah hujan yang tidak terserap ke dalam tanah. |
Meluapnya
air sungai ke pemukiman penduduk di pinggiran bantaran sungai saat hujan
deras. |
b. Sebab
Terjadinya Banjir
Penyebab banjir merupakan perpaduan
antara faktor alam dan aktivitas manusia yang merusak keseimbangan lingkungan.
|
Faktor
Penyebab |
Penjelasan |
Contoh |
|
Faktor
Alam |
Curah
hujan ekstrem, pasang air laut (rob), dan pendangkalan sungai secara alami. |
Hujan
lebat dengan durasi lebih dari 5 jam yang meningkatkan volume air secara
drastis. |
|
Alih
Fungsi Lahan |
Berubahnya
area resapan air (hutan/sawah) menjadi pemukiman atau kawasan industri. |
Pembangunan
perumahan di daerah resapan air yang menyebabkan air lari ke permukaan (run-off). |
|
Sampah
& Drainase |
Penyumbatan
saluran air oleh sampah dan buruknya sistem selokan di perkotaan. |
Penumpukan
limbah rumah tangga di pintu air yang menghambat laju aliran air. |
|
Penggundulan
Hutan |
Hilangnya
vegetasi di daerah hulu yang berfungsi menahan laju air hujan. |
Hutan
di daerah pegunungan yang ditebang sehingga air langsung mengalir deras ke
hilir. |
c. Tanda-Tanda
Terjadi Banjir
Mengenali tanda-tanda awal sangat
penting untuk meminimalkan kerugian dan melakukan evakuasi dini.
|
Gejala
Alam |
Penjelasan |
Contoh
Pengamatan |
|
Kenaikan
Debit Air |
Air
sungai mulai meluap atau permukaan air di selokan naik dengan cepat. |
Tinggi
air di pintu air mencapai level "Siaga I" dalam waktu singkat. |
|
Perubahan
Warna Air |
Air
sungai berubah menjadi sangat keruh atau berwarna cokelat pekat (berlumpur). |
Indikasi
adanya erosi besar di hulu yang membawa material tanah ke hilir. |
|
Curah
Hujan |
Hujan
deras yang turun secara terus-menerus tanpa henti dalam waktu lama. |
Intensitas
hujan yang tidak kunjung reda selama berjam-jam di wilayah setempat maupun
hulu. |
|
Genangan
Lokal |
Munculnya
genangan air di titik-titik yang biasanya kering saat hujan normal. |
Air
mulai masuk ke halaman rumah meskipun hujan baru berlangsung sebentar. |
d. Akibat
Terjadi Banjir
Dampak banjir sangat luas,
menyentuh aspek kesehatan, ekonomi, hingga kerusakan infrastruktur.
|
Bidang
Dampak |
Penjelasan |
Contoh |
|
Kesehatan |
Munculnya
bibit penyakit yang terbawa melalui air kotor. |
Berjangkitnya
penyakit kulit, diare, dan leptospirosis (kencing tikus). |
|
Ekonomi |
Terhentinya
kegiatan perdagangan dan rusaknya aset warga. |
Rusaknya
barang elektronik, furnitur, dan gagal panen pada lahan pertanian. |
|
Infrastruktur |
Kerusakan
fisik pada sarana umum yang menghambat mobilitas. |
Jalan
aspal yang terkelupas, jembatan putus, dan lumpuhnya transportasi umum. |
e. Pengertian
Mitigasi Bencana Banjir
Mitigasi banjir adalah langkah
pencegahan yang dilakukan agar ancaman air tidak berubah menjadi bencana yang
mematikan.
|
Istilah |
Penjelasan |
Contoh |
|
Mitigasi
Banjir |
Upaya
prabencana untuk mengurangi risiko luapan air melalui perbaikan lingkungan
dan kesiapan masyarakat. |
Pembersihan
saluran air secara rutin sebelum memasuki musim penghujan. |
f. Enam
Kegiatan Mitigasi Bencana Banjir
Langkah-langkah strategis yang
dapat dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
|
No. |
Kegiatan
Mitigasi |
Penjelasan
& Contoh |
|
1) |
Normalisasi
Sungai |
Pengerukan
lumpur untuk memperdalam sungai agar daya tampung air kembali optimal. |
|
2) |
Pembuatan
Biopori |
Membuat
lubang resapan di tanah untuk meningkatkan kapasitas penyerapan air hujan. |
|
3) |
Penghijauan
Hulu |
Menanam
kembali pohon-pohon di daerah perbukitan agar air tidak langsung turun ke
bawah. |
|
4) |
Penyediaan
Pompa |
Menyiapkan
mesin pompa air di daerah cekungan (depresi) untuk membuang genangan air. |
|
5) |
Sistem
Waduk/Embung |
Membangun
bendungan kecil untuk menampung sementara limpahan air sebelum dialirkan. |
|
6) |
Edukasi
"Banjir Kanal" |
Mengatur
tata ruang kota dengan membangun kanal khusus untuk membagi beban aliran
sungai. |
g. Perubahan
Strategi Mitigasi
Pergeseran paradigma dalam
menangani masalah banjir di Indonesia.
|
Unsur
Perubahan |
Dulu |
Sekarang |
|
Cara Penanganan |
Fokus pada membuang air
secepatnya ke laut (betonisasi). |
Fokus pada meresapkan air ke
dalam tanah (sumur resapan). |
|
Sistem Informasi |
Informasi banjir hanya melalui
kabar burung. |
Penggunaan sensor ketinggian air
otomatis yang terhubung ke aplikasi gawai. |
h. Keberlanjutan
Mitigasi
Memastikan wilayah tetap aman dari
banjir dalam jangka panjang untuk generasi mendatang.
|
Aspek
Keberlanjutan |
Penjelasan |
Contoh
Penerapan |
|
Budaya
Sadar Lingkungan |
Mengubah
perilaku masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. |
Pembentukan
Bank Sampah dan komunitas peduli sungai di tingkat desa. |
|
Pembangunan
Berkelanjutan |
Perizinan
bangunan yang memperketat ketersediaan lahan terbuka hijau. |
Kewajiban
menyediakan 30% area resapan bagi setiap pembangunan gedung baru. |
6. Mitigasi Bencana Kekeringan
a. Pengertian
Kekeringan
Kekeringan adalah bencana yang
terjadi secara perlahan (slow onset disaster) dan berkaitan erat dengan
ketersediaan air.
|
Aspek |
Penjelasan |
Contoh |
|
Definisi |
Keadaan
kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan
(beberapa bulan hingga bertahun-tahun). |
Mengeringnya
sumber mata air dan sumur penduduk selama musim kemarau panjang. |
b. Sebab
Terjadinya Kekeringan
Kekeringan dipicu oleh
ketidakseimbangan siklus hidrologi dan pengelolaan sumber daya air yang buruk.
|
Faktor
Penyebab |
Penjelasan |
Contoh |
|
Faktor
Alam |
Rendahnya
curah hujan di bawah normal dalam satu musim serta pengaruh fenomena El
Nino. |
Fenomena
El Nino yang menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih
panas dan lama. |
|
Kerusakan
Hidrologis |
Kerusakan
daerah tangkapan air (hutan) sehingga air hujan tidak tersimpan di dalam
tanah. |
Hutan
di area pegunungan yang gundul sehingga cadangan air tanah menipis. |
|
Penggunaan
Berlebih |
Pengambilan
air tanah secara besar-besaran untuk industri atau pertanian yang tidak
terkontrol. |
Penyedotan
air bawah tanah oleh gedung tinggi yang menyebabkan sumur warga sekitar
kering. |
|
Global Warming |
Peningkatan
suhu bumi yang mempercepat proses penguapan air di permukaan. |
Meningkatnya
penguapan pada waduk atau danau sehingga debit air menurun drastis. |
c. Tanda-Tanda
Terjadi Kekeringan
Mengenali tanda awal kekeringan
membantu dalam langkah penghematan air lebih dini.
|
Gejala
Alam |
Penjelasan |
Contoh
Pengamatan |
|
Penurunan
Debit |
Menurunnya
permukaan air pada waduk, sungai, dan sumur-sumur penduduk. |
Tiang
dermaga atau dasar sungai yang mulai terlihat karena air surut. |
|
Kondisi
Tanah |
Tanah
mulai kehilangan kelembapan, mengeras, hingga pecah-pecah (retak). |
Lahan
sawah yang tanahnya terbelah-belah karena tidak ada pasokan air. |
|
Kondisi
Vegetasi |
Tanaman
mulai layu, meranggas (menggugurkan daun), hingga mati mengering. |
Daun
pepohonan di hutan yang berubah warna menjadi cokelat dan rontok. |
|
Cuaca
Ekstrem |
Suhu
udara terasa sangat menyengat dan kelembapan udara sangat rendah. |
Udara
terasa kering dan debu beterbangan dengan mudah di lingkungan sekitar. |
d. Akibat
Terjadi Kekeringan
Dampak kekeringan sangat krusial
karena air adalah kebutuhan dasar mahluk hidup.
|
Bidang
Dampak |
Penjelasan |
Contoh |
|
Pertanian |
Terganggunya
siklus tanam yang berujung pada gagal panen (puso). |
Tanaman
padi yang mati sebelum bulirnya terisi karena kekurangan air. |
|
Ekonomi |
Kenaikan
harga bahan pangan akibat pasokan yang berkurang di pasar. |
Harga
beras dan sayuran melonjak karena produksi petani menurun. |
|
Kesehatan |
Kesulitan
akses air bersih menyebabkan sanitasi buruk dan penyakit. |
Merebaknya
penyakit gatal-gatal karena warga menggunakan air sungai yang kotor. |
|
Ekosistem |
Peningkatan
risiko kebakaran hutan dan lahan karena kondisi yang kering. |
Kebakaran
semak belukar di pinggir hutan yang dipicu cuaca panas. |
e. Pengertian
Mitigasi Bencana Kekeringan
Mitigasi kekeringan berfokus pada
efisiensi pemanfaatan air dan perlindungan sumber daya alam.
|
Istilah |
Penjelasan |
Contoh |
|
Mitigasi
Kekeringan |
Upaya
prabencana untuk menjaga ketersediaan air dan mengurangi dampak kekurangan
air bagi kehidupan. |
Pembuatan
aturan mengenai pembatasan pengambilan air tanah. |
f. Enam
Kegiatan Mitigasi Bencana Kekeringan
Langkah-langkah strategis untuk
menjamin ketersediaan air di masa depan.
|
No. |
Kegiatan
Mitigasi |
Penjelasan
& Contoh |
|
1) |
Pembangunan
Embung |
Membuat
kolam penampungan air hujan untuk digunakan saat musim kemarau tiba. |
|
2) |
Reboisasi
Hulu |
Menanam
kembali hutan di daerah resapan air agar air tersimpan di dalam tanah. |
|
3) |
Budaya
Hemat Air |
Melatih
masyarakat untuk menggunakan air seperlunya dan mendaur ulang air bekas
cucian. |
|
4) |
Sistem
Irigasi Tetes |
Teknik
penyiraman tanaman yang langsung ke akar untuk menghemat penggunaan air di
sawah. |
|
5) |
Sumur
Resapan |
Membuat
lubang resapan agar air hujan tidak terbuang ke laut, melainkan mengisi air
tanah. |
|
6) |
Varietas
Tahan Kering |
Mendorong
petani menanam jenis tanaman (seperti palawija) yang tidak butuh banyak air. |
g. Perubahan
Strategi Mitigasi
Perkembangan cara pandang dalam
menangani kekeringan di Indonesia.
|
Unsur
Perubahan |
Dulu |
Sekarang |
|
Penyediaan
Air |
Hanya
bergantung pada pengiriman mobil tangki air (darurat). |
Membangun
infrastruktur permanen seperti bendungan dan pipanisasi. |
|
Teknologi |
Prediksi
cuaca hanya berdasarkan tanda alam (pranata mangsa). |
Menggunakan
data satelit BMKG untuk memetakan wilayah potensi kekeringan. |
h. Keberlanjutan
Mitigasi
Langkah jangka panjang untuk
memastikan ketahanan air nasional.
|
Aspek
Keberlanjutan |
Penjelasan |
Contoh
Penerapan |
|
Konservasi
DAS |
Menjaga
Daerah Aliran Sungai agar tetap berfungsi sebagai penangkap air. |
Pelarangan
alih fungsi lahan hutan di sekitar lereng gunung menjadi villa. |
|
Desalinasi |
Pengembangan
teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar di daerah pesisir. |
Pemanfaatan
teknologi osmosis balik untuk mencukupi kebutuhan air di pulau kecil. |
F. Perubahan
dan Keberlanjutan Mitigasi Bencana
Kearifan lokal di Indonesia
merupakan kumpulan pengetahuan dan praktik yang diwariskan secara turun-temurun
untuk menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam, termasuk dalam
menghadapi potensi bencana.
1.
Mitigasi
Bencana Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia
|
No. |
Kearifan Lokal |
Daerah |
Mitigasi Bencana |
Penjelasan Mitigasi Bencana |
|
1) |
Smong |
Simeulue, Aceh |
Tsunami |
Budaya tutur melalui syair yang
mengajarkan warga lari ke perbukitan jika terjadi gempa besar dan air laut
surut. |
|
2) |
Nyabuk Gunung |
Jawa Tengah |
Tanah Longsor |
Teknik bercocok tanam dengan cara
membuat terasering mengikuti garis kontur lahan di lereng gunung. |
|
3) |
Rumah Gadang |
Sumatera Barat |
Gempa Bumi |
Struktur bangunan kayu dengan sistem
sendi (tanpa paku) yang fleksibel mengikuti guncangan gempa. |
|
4) |
Subak |
Bali |
Kekeringan & Banjir |
Sistem irigasi tradisional yang mengatur
distribusi air secara adil dan menjaga resapan air di pegunungan. |
|
5) |
Sasi |
Maluku & Papua |
Abrasi & Kerusakan Laut |
Larangan mengambil hasil laut pada
periode tertentu untuk pemulihan ekosistem pesisir sebagai benteng alami. |
|
6) |
Rumah Lonat |
Nias |
Gempa Bumi |
Pondasi rumah berupa tumpukan batu besar
dan tiang kayu yang tidak tertanam dalam tanah, melainkan menumpang di atas
batu. |
|
7) |
Hutan Larangan |
Kampar, Riau |
Banjir & Longsor |
Aturan adat yang melarang penebangan
pohon di hutan tertentu untuk menjaga fungsi daerah resapan air. |
|
8) |
Mitu |
NTT |
Kekeringan |
Sistem lumbung pangan keluarga yang
menyimpan hasil panen untuk menghadapi musim kemarau panjang. |
|
9) |
Lulu Amba |
Sulawesi Tengah |
Likuifaksi |
Pengetahuan lokal tentang pelarangan
pembangunan di wilayah bekas rawa atau tanah yang memiliki kadar air tinggi. |
|
10) |
Tana' Klen |
Kalimantan |
Banjir |
Penetapan hutan lindung adat di area
hulu sungai untuk menahan laju air hujan. |
|
11) |
Bale Tani |
Sasak, Lombok |
Gempa Bumi |
Lantai rumah dibuat dari tanah liat
dicampur kotoran kuda yang memiliki elastisitas tinggi terhadap getaran. |
|
12) |
Kelekan |
Jawa Barat |
Banjir |
Pembuatan kolam penampungan air di sekitar
pemukiman untuk menampung luapan air hujan. |
|
13) |
Rumah Kaki Seribu |
Papua |
Banjir & Pasang Laut |
Rumah panggung dengan banyak tiang
penyangga yang tinggi untuk menghindari air masuk ke dalam rumah. |
|
14) |
Wewaler |
Jawa |
Kekeringan |
Larangan menebang pohon beringin (pohon
besar) yang secara fungsional menjaga mata air bawah tanah. |
|
15) |
Nani |
Mentawai |
Gempa & Tsunami |
Pembangunan pemukiman di pedalaman dan
konstruksi rumah yang menggunakan material kayu ringan. |
|
16) |
Repong Damar |
Lampung |
Tanah Longsor |
Sistem perkebunan campuran yang menjaga
struktur tanah melalui perakaran pohon damar yang kuat. |
|
17) |
Lubuk Larangan |
Sumatera Utara |
Banjir |
Pengelolaan sungai secara adat untuk
mencegah pengerusakan bantaran dan pendangkalan sungai. |
|
18) |
Parit Isolasi |
Kalimantan Tengah |
Kebakaran Hutan |
Pembuatan parit basah mengelilingi lahan
untuk mencegah api menjalar saat terjadi kebakaran lahan gambut. |
|
19) |
Kite' |
Dayak |
Banjir |
Pengamatan perilaku hewan (seperti
burung) yang berpindah tempat sebagai tanda akan datangnya banjir besar. |
|
20) |
Bale Jajar |
Sasak, NTB |
Gempa Bumi |
Penataan rumah dengan jarak tertentu
(renggang) untuk menyediakan jalur evakuasi yang aman saat darurat. |
|
21) |
Sengkedan |
Nusantara |
Erosi & Longsor |
Pembuatan tangga-tangga tanah pada lahan
miring untuk memecah energi aliran air hujan. |
|
22) |
Rumah Baileo |
Maluku |
Gempa Bumi |
Arsitektur terbuka tanpa dinding
permanen yang meminimalisir risiko tertimpa bangunan saat guncangan. |
|
23) |
Tumpuk Batu |
Flores |
Gempa Bumi |
Pondasi bangunan menggunakan tumpukan
batu kali tanpa semen yang berfungsi sebagai peredam getaran alami. |
|
24) |
Lembur Ituk |
Jawa Barat |
Tanah Longsor |
Tradisi menempatkan pemukiman menjauhi
kemiringan tanah di atas 30 derajat. |
|
25) |
Pikukuh Adat |
Baduy, Banten |
Kerusakan Tanah |
Larangan meratakan tanah atau mengubah
kontur tanah asli dalam pembangunan rumah (mengikuti alam). |
|
26) |
Pompa Air Tradisional |
Madura |
Kekeringan |
Penggunaan vegetasi khusus di sekitar
sumur gali untuk menjaga kelembapan dan ketersediaan air tanah. |
|
27) |
Rumah Bolon |
Sumatera Utara |
Gempa Bumi |
Sambungan antar kayu menggunakan pasak
dan ikatan tali ijuk yang sangat kuat namun tetap fleksibel. |
|
28) |
Ie Beuna |
Aceh |
Tsunami |
Sejarah lisan tentang banjir laut
dahsyat yang mengajarkan kewaspadaan bagi masyarakat pesisir. |
|
29) |
Mangrove Adat |
Pesisir Jawa |
Abrasi & Tsunami |
Penanaman pohon bakau di garis pantai
sebagai pemecah ombak dan pelindung daratan. |
|
30) |
Pasigala |
Palu, Sulteng |
Likuifaksi |
Istilah tradisional yang menandai area
rawa lumpur berbahaya yang tidak boleh dijadikan tempat tinggal. |
|
31) |
Lumbung Desa |
Nusantara |
Kelaparan/Krisis |
Penyimpanan cadangan pangan kolektif
pasca bencana untuk menjamin ketersediaan makanan warga. |
|
32) |
Kentongan |
Jawa & Bali |
Peringatan Dini |
Kode bunyi-bunyian tertentu sebagai
sistem komunikasi massa jika terjadi bencana mendadak. |
|
33) |
Rumah Joglo |
Jawa |
Gempa Bumi |
Konstruksi tumpang sari yang membagi
beban bangunan secara merata sehingga tidak mudah roboh. |
|
34) |
Beronjong Batu |
Desa-desa |
Longsor Tebing |
Penguatan lereng menggunakan susunan
batu yang dibungkus kawat untuk mencegah pergeseran tanah. |
|
35) |
Embung |
NTT |
Kekeringan |
Penampungan air hujan alami yang
digunakan untuk mengairi lahan saat musim kemarau. |
|
36) |
Sumur Resapan |
Tradisi Perkotaan |
Banjir |
Lubang tanah yang sengaja dibuat untuk
mengembalikan air hujan ke dalam akuifer tanah dengan cepat. |
|
37) |
Kayu Ulin |
Kalimantan |
Banjir |
Penggunaan kayu "besi" yang
justru semakin kuat jika terendam air sebagai tiang pondasi rumah panggung. |
|
38) |
Pola Tanam |
Papua (Lembah Baliem) |
Banjir |
Sistem bedengan yang tinggi dan saluran
drainase yang rapi di sela-sela tanaman ubi jalar. |
|
39) |
Rumah Lontiok |
Riau |
Banjir |
Desain rumah panggung tinggi dengan atap
menyerupai perahu untuk menghadapi siklus banjir tahunan. |
|
40) |
Talun |
Jawa Barat |
Erosi |
Kombinasi pohon kayu besar, pohon buah,
dan tanaman semak untuk menjaga stabilitas tanah. |
|
41) |
Rumah Lamin |
Dayak, Kaltim |
Banjir & Kebakaran |
Rumah panjang panggung yang memfasilitasi
evakuasi warga secara kolektif dalam satu waktu. |
|
42) |
Moposad |
Bolaang Mongondow |
Dampak Bencana |
Budaya gotong royong dalam memperbaiki
infrastruktur yang rusak akibat bencana secara cepat. |
|
43) |
Bale Kambang |
Lombok |
Gempa Bumi |
Konstruksi bangunan yang
"mengambang" di atas pondasi batu datar tanpa kaitan kaku ke tanah. |
|
44) |
Zonasi Hutan |
Baduy |
Kerusakan Ekologis |
Pembagian hutan menjadi hutan titipan,
hutan tutupan, dan hutan garapan untuk menjaga iklim mikro. |
|
45) |
Gedong Songo |
Semarang |
Letusan Gunung Api |
Peletakan bangunan candi di punggungan
bukit yang secara geografis aman dari jalur awan panas/lahar. |
|
46) |
Omo Hada |
Nias |
Gempa Bumi |
Penggunaan balok penyangga diagonal
(sikuan) yang membuat rumah sangat kaku terhadap guncangan. |
|
47) |
Tradisi Ngewalak |
Lampung |
Kebakaran Hutan |
Pembukaan lahan dengan cara sekat bakar
agar api tidak meluas ke wilayah hutan lindung. |
|
48) |
Atap Ijuk |
Nusantara |
Gempa Bumi |
Penggunaan material atap yang ringan
sehingga tidak menimbulkan cedera fatal jika bangunan runtuh. |
|
49) |
Cekdam Alami |
Desa-desa |
Banjir Bandang |
Penahanan aliran air di parit-parit
menggunakan tumpukan ranting dan batu untuk memperlambat laju air. |
|
50) |
Pagar Hidup |
Pedesaan |
Angin Kencang |
Penanaman pohon bambu atau cemara di
sekeliling rumah sebagai pemecah kekuatan angin (windbreak). |
2.
Kesadaran
pentingnya mitigasi bencana
Memahami pentingnya kesadaran
mitigasi bencana adalah langkah awal untuk mengurangi risiko dampak yang
ditimbulkan, baik berupa kerugian materiel maupun korban jiwa. Indonesia, yang
berada di wilayah Ring of Fire, menuntut kesiapsiagaan yang
berkelanjutan dari seluruh lapisan masyarakat.
|
No. |
Bentuk
Kesadaran |
Keterangan |
Contoh
Implementasi |
|
1) |
Kesadaran
Struktural |
Memahami
pentingnya pembangunan fisik yang tahan terhadap ancaman bencana tertentu. |
Membangun
rumah dengan struktur tahan gempa atau membangun tanggul di area rawan
banjir. |
|
2) |
Kesadaran
Non-Struktural |
Pemahaman
mengenai kebijakan, aturan, dan tata ruang yang bertujuan mengurangi risiko
bencana. |
Mematuhi
aturan larangan mendirikan bangunan di daerah sempadan sungai atau lereng
curam. |
|
3) |
Kesadaran
Kewaspadaan Dini |
Kemampuan
mengenali tanda-tanda alam dan merespons sistem peringatan dini secara cepat. |
Segera
melakukan evakuasi mandiri saat mendengar sirine tsunami setelah gempa besar. |
|
4) |
Kesadaran
Edukatif |
Keinginan
untuk terus belajar dan membekali diri dengan pengetahuan kebencanaan. |
Mengikuti
simulasi evakuasi bencana (drill) secara rutin di sekolah atau lingkungan
rumah. |
|
5) |
Kesadaran
Ekologis |
Menyadari
bahwa kelestarian alam berfungsi sebagai pelindung alami dari bencana. |
Menanam
pohon bakau di pesisir pantai untuk memecah energi )gelombang tsunami atau
abrasi. |
|
6) |
Kesadaran
Sosial |
Menumbuhkan
sikap gotong royong dan kepedulian antarsesama sebelum dan saat bencana. |
Membentuk
Kelompok Masyarakat Tangguh Bencana (Magana) di tingkat desa atau kelurahan. |
|
7) |
Kesadaran
Literasi Data |
Memanfaatkan
teknologi dan data informasi cuaca atau kegempaan dari lembaga resmi. |
Selalu
memantau aplikasi BMKG atau Inarisk sebelum melakukan perjalanan jauh. |
|
8) |
Kesadaran
Finansial |
Mempersiapkan
dana darurat atau asuransi untuk pemulihan pascabencana. |
Menyisihkan
tabungan khusus atau mendaftarkan properti dalam asuransi perlindungan
bencana. |
------- oOo
-------